Langsung ke konten utama

Mengenal Lebih Dalam tentang Kamus Tesaurus


Kamus Tesaurus

Kita sudah lama mengenal kamus. Sejak kita duduk dibangku sekolah dasar sudah diperkenalkan dan mempelajari apa itu kamus dan cara menggunakan serta cara mencari kosa kata-kosa kata dalam kamus. Kamus-kamus yang sudah kita kenal adalah kamus bahasa indonesia, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau pun kamus saku kecil yang kita miliki ketika masih sekolah.
Sejak dikumandangkan sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia makin meluas ke berbagai bidang kehidupan, bahkan berpeluang menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Peluang itu makin nyata setelah bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa negara (UUD 1945, Pasal 36) yang menempatkan bahasa itu sebagai bahasa resmi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan bahasa pengantar pendidikan serta bahasa dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Untuk itulah, diperlukan pengembangan kosakata bahasa Indonesia dalam berbagai bidang ilmu, terutama untuk kepentingan pendidikan anak bangsa.
Kekayaan kosakata suatu bahasa dapat menjadi indikasi kemajuan peradaban bangsa pemilik bahasa itu karena kosakata merupakan sarana pengungkap ilmu dan teknologi serta seni. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu, perkembangan kosakata terus menunjukkan kemajuan. Kemajuan itu makin dipacu oleh perkembangan teknologi informasi yang mampu menerobos batas ruang dan waktu. Dalam perkembangan yang begitu cepat telah tersedia Kamus Bahasa Indonesia yang memuat kosakata bahasa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, kamus itu membantu pengguna bahasa dalam memahami makna kata. Sebaliknya, pengguna bahasa telah memiliki konsep, tetapi dia tidak menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan konsep itu. Nah, di situlah diperlukan tesaurus. Kini Pusat Bahasa telah mengeluarkan tesaurus bahasa Indonesia yang disusun berdasarkan penelitian dalam berbagai ranah penggunaan bahasa Indonesia. Tesaurus ini menyediakan deret kata yang memiliki makna yang sama atau mendekati kesamaan.
Penerbitan Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa ini dapat membantu pengguna bahasa Indonesia dalam mengungkapkan pikiran, gagasan, pengalaman, dan perasaannya ke dalam bahasa Indonesia yang tepat. Atas penerbitan Tesaurus ini saya menyampaikan terima kasih kepada para penyusun yang telah melakukan penelitian, pengolahan, dan akhirnya penyajian dalam bentuk buku ini.

PETUNJUK PEMAKAIAN
TESAURUS ALFABETIS PUSAT BAHASA

Tesaurus

Kata tesaurus berasal dari kata thesauros, bahasa Yunani, yang bermakna ‘khazanah’. Lambat laun, kata tersebut mengalami perkembangan makna, yakni ‘buku yang dijadikan sumber informasi’. Tesaurus berisi seperangkat kata yang saling bertalian maknanya. Pada dasarnya, tesaurus merupakan sarana untuk mengalihkan gagasan ke dalam sebuah kata, atau sebaliknya. Oleh karena itu, lazimnya tesaurus disusun berdasarkan gagasan atau tema. Namun, untuk memudahkan pengguna dalam pencarian kata, penyusunan tesaurus pun berkembang, kini banyak tesaurus yang dikemas berdasarkan abjad. Tesaurus dibedakan dari kamus. Di dalam kamus dapat dicari informasi tentang makna kata, sedangkan di dalam tesaurus dapat dicari kata yang akan digunakan untuk mengungkapkan gagasan pengguna. Dengan demikian, tesaurus dapat membantu penggunanya dalam mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan sesuai dengan apa yang dimaksud. Misalnya, pencarian kata lain untuk kata hewan, pengguna tesaurus dapat mencarinya pada tema hewan.
hewan n binatang, dabat, fauna, sato, satwa
Sederet kata yang terdapat pada lema hewan tersebut menunjukkan bahwa kata tersebut bersinonim sehingga dapat saling menggantikan sesuai dengan konteksnya. Tesaurus ini berguna dalam pengajaran bahasa sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengajar dan pelajar. Di dalam tesaurus ini, pada sebagian lema dicantumkan pula antonimnya, dengan label ant.

haram a 1 gelap (ki), ilegal, liar, pantang, sumbang, tabu, terlarang; 2 mulia, suci;
ant 1 halal
mengharamkan v melarang, memantang, mencegah, menegah, menolak;
ant menghalalkan
pengharaman n pencegahan, pelarangan, penegahan;
ant penghalalan
jaka n bujang, cowok (cak), jejaka, lajang, laki-laki, pemuda, perjaka, teruna ant dara

Kesinoniman dalam lema-lema disusun berdasarkan abjad. Lema-lema itu merupakan lema yang memiliki kesamaan makna yang berjalinan di antara kata dasar, kata turunan, dan kelompok kata atau frasa. Lema yang bersinonim digunakan tanda koma (,). Lema yang bersinonim mencakup kata-kata dari ragam baku, ragam percakapan sehari-hari, kontemporer, ataupun arkais. Di dalam tesaurus ini hanya label ragam percakapan dan kiasan yang dicantumkan, sedangkan label ragam yang lain tidak. Hal itu dilakukan agar kata-kata dapat dimanfaatkan kembali dalam percakapan sehari-hari.
Dalam tesaurus ini, hiponim dicantumkan pula karena di dalam tesaurus lazimnya memuat makna yang saling bertalian. Dengan demikian, pengguna dapat dengan mudah memperoleh kata yang tepat sesuai dengan yang dikehendaki sehingga pengguna dapat memanfaatkan kata itu untuk keperluan pragmatis.

jahit v bordir, jelujur, kelim, obras, tisik, setik, sulam, suji, tekat

Satuan leksikal bordir, jelujur, kelim, dan seterusnya merupakan hiponim dari lema jahit.

Akronim yang sudah lazim disertakan pula sebagai lema dalam tesaurus ini karena
akronim tersebut sudah menjadi hal biasa dan sering digunakan dalam komunikasi seharihari.

radar n pencari, pengesan, peninjau

Singkatan
a          adjektiva
adv      adverbia
ant       antonim
cak       cakapan
dsb       dan sebagainya
ki         kiasan
n          nomina
num    numeralia
p          partikel
pron    pronomina
v          verba

Klik link di bawah ini, Kamus Tesaurus dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

download[4]


Unduh juga KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA di bawah ini

download[4]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Ibu Kita Kartini

Ibu Kartini merupakan salah satu wanita Indonesia yang menjunjung tinggi emansipasi wanita. Ia merupakan pelopor hak wanita untuk dapat memiliki pendidikan yang layak dan setara dengan lainnya. Di hidupnya yang singkat ibu Kartini mampu membuat perubahan yang besar sehingga cerita dongeng ibu Kartini dijelaskan dari generasi ke generasi. Asal Usul Kelahiran Kartini Ibu Kartini memiliki nama lengkap Raden Ajeng Kartini. Ia lahir di Jepara, salah satu kota di Jawa Tengah pada 21 April 1879. Kartini lahir dalam keluarga mapan dan ningrat. Ibunya bernama M.A Ngasirah dan ayahnya adalah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ia memiliki 11 saudara tiri dan kandung yang mana Kartini merupakan anak perempuan tertua di keluarganya. Ayah Kartini merupakan keturunan bupati Jepara sementara ibunya hanya dari kalangan rakyat biasa. Ngasirah merupakan guru agama di Teluk Awur, Jepara. Anak dari Kyai Haji Madirono dan Nyai Haji Siti Aminah. Sementara ayah Kartini yakni Adipati Ario Sosroningrat merupa...

Kegiatan Rutin Membaca Surat Yasin bersama

Pembiasaan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang, baik dilakukan secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Pembiasaan merupakan salah satu cara yang efektif dalam proses pembentukan karakter anak. Pembiasaan yang baik akan berdampak baik pula bagi anak. Anak perlu dibiasakan sejak dini untuk melakukan sendiri, agar kelak bisa menjadi orang mandiri dan bertanggung jawab. Pembiasaan sebaiknya ditanamkan dari hal-hal kecil dan yang mudah dilakukan oleh anak usia dini. tujuan dari pembiasaan adalah menanamkan perilaku berupa perkataan maupun perbuatan yang mana bertujuan untuk membuat seseorang menjadi ingat dan terbiasa melakukan hal-hal baru sehingga hal-hal baru yang dipelajarinya menjadi terbiasa untuk dilakukan. Dalam melakukan pembiasaan yang baik membutuhkan pengawasan. Pengawasan itu penting sekali dalam mendidik anak-anak. Tanpa pengawasan, berarti membiarkan anak berbuat sekehe...

Pengumuman Kelulusan Siswa Kelas 6 SD Negeri Purwosari I Kecamatan Purwosari

 Pengumuman Kelulusan Siswa Kelas 6 SD Negeri Purwosari I